Super Jo’

Super Jo

Panas, sumpek, dan hiruk pikuk memang sudah menjadi rutinitas yang aku jalani setiap perjalananku menuju kampus. Apalagi pasca hujan dan banjir begini, waah…..benar-benar Semarang bangeet…. Saat hujan telah reda, dan jalan masih digenangi air banjir membuat aku berinisiatif untuk melambungkan hayalanku,”Ini adalah kolam susu coklat.” Dari air banjir yang berwarna coklat susu, aku jadi membayangkan alangkah lezatnya menikmati secangkir coklat hangat, waow nyami….air liurku semakin terangsang keluar dari mulutku,apalagi saat bus yang aku tumpangi berhenti di depan kedai capcay. Di dalam sana kulihat orang-orang sedang asyik menikmati lezatnya capcay, aku mencoba memperkuat indera penciumanku layaknya seekor anjing pelacak. Saat lagi asyik-asyiknya menikmati aroma capcay yang begitu menggoda, tiba-tiba…”Duuh De’..hiks,maap ya..saya barusan kentut, dah gak tahan De’, ya maklum , lhawong sudah dua hari ini saya buang-buang air terus je! Ya maap ya De’….sekali lagi maap, hiks..hiks..hiks.”

Kulirik sumber suara merdu teman sekursiku,”He..he…he..,iya mbah gak papa kok, namanya juga lagi kebelet kentut.”

Tanpa diduga malahan si nenek menunjukkan gigi hitamnya tepat di depan mukaku. Susur tembakau yang menyelempit di sudut mulutnya bergoyang-goyang menari mengikuti gerakan bibir merahnya saat tertawa.

“Turun mana, Mbah…?”,aku mencoba berbasa-basi. Yang membuat aku bingung adalah setiap pertanyaan yang aku ajukan pada si nenek hanya dijawab dengan tawa lebar, dan sialnya helaian-helaian tembakau itu muncrat ke mukaku saat dia terbahak.

“De’…De’…mbah ngerti maksud kamu itu mau ngajakin mbah guyonan, tapi maap…, mbah ini sudah gak bisa dengar apa-apa, hiks…hiks…hiks..mbah sudah budeg.” Sambil memutar-mutar tembakau susurnya, si nenek tersenyum kapadaku, dan aku hanya nyengir.

“Kampus..kampus! Yak..yang turun kampus siap-siap..!” suara kondektur mengakhiri petualangan burukku selama dalam bus. Anggukan kepala dan senyum perpisahan aku lempar ke arah si nenek dan aku segera bergegas turun. Aku berusaha keluar dari himpitan penumpang yang penuh sesak, berbagai aroma khas ketek mulai tercium satu persatu, aroma ketek mix sayuran dan debu,mmmm…..benar-benar ancaman yang membuat sarapan pagiku terangsang keluar dari perut. Kakiku sempat menggeser seutas tali raffia, setelah aku sampai di depan pintu bus, aku menghela nafas panjang,”Wah…lega…” (sebagian saduran dari novel Lelakiku/sulistya nugrahaningrum)


About this entry