Lelakiku

lelakiku

Semua masih sama seperti dulu, taman ini masih terlihat indah dengan bougenvile ungu yang selalu menyemarakkan, di sinilah terakhir kalinya aku bertemu dengan Yurie. Meskipun perasaanku sudah mati, tapi aku juga manusia biasa yang mengagumi keindahan, satu persatu kuurai semua kenangan indah bersama Yurie di taman ini. Alunan harmonika tentang lagu cinta yang selalu Yurie mainkan untukku sebenarnya membuat aku begitu merindukan segalanya. Lima tahun aku susah payah untuk bangkit dari kehancuran yang telah Yurie ciptakan untukku. Andaikan waktu dapat bergulir kembali ingin kuulang semua kisahku, yang membuat jantungku lumpuh dan terlena dengan indahnya. Namun roda kehidupan telah berputar, semuanya telah hancur dan menjadi puing yang tak dapat dibangun lagi, yang tersisa saat ini hanyalah rasa sakit dan penyesalan yang mendalam, yang meninggalkan seribu tanya. Yang aku lakukan kini hanya mengabdikan diriku untuk lelaki kecilku, satu-satunya harapanku dan yang membuat tekadku bulat untuk mengayunkan langkahku menatap masa depan.
“Bunda, ayo kita pulang aja, Rio capek!”
“Rio, Sayang…..sebentar ya, kita tunggu dulu tante Riza, Rio mau ice cream kan?”
Sambil kuusap peluh Rio yang membasahi dahinya kucoba membuat Rio tenang, sementara Rio menempelkan kepalanya ke perutku.
“Asyiik….tapi Bunda, ice creamnya mana?”
Tatapan yang bening dan polos, membuat aku tidak tega membiarkan Rio menunggu Riza bersamaku terlalu lama. (sebagian saduran dari novel Lelakiku/sulistya nugrahaningrum)


About this entry